untuk EZ
Di Post Oleh: Jajang Ganda Tanggal: 15/08/2017 Di Baca164 kali

PHOTO AYAHKU

Jay Tamiang Ganda

 

Langit, entah mengapa, begitu murung hari ini. Gumpalan hitam pada wajahnya seakan menandakan ada sesuatu yang terpendam. “Akhir tahun yang mendung”, gumamku dalam hati. Aku masih berjalan. Dengan sendirinya kaki ini terhentikan oleh kerumunan orang yang bergumul tak teratur di pinggir jalan depan sebuah rumah, entah rumah siapa, aku tidak tahu. Aku hanya kebetulan datang ke tempat ini. Aku pergi dari rumah tadi pagi sekedar untuk menghilangkan keinginan yang tertunda beberapa bulan, yaitu membeli buku. Aku mencari buku  untuk menghilangkan suntuk yang ada dalam otakku. Meskipun setelah mendapatkan buku yang aku ingkinkan, aku tidak langsung menamatkan [membaca] buku tersebut. Biasanya aku membaca beberapa ruas dari buku tersebut. Seperti yang saya lakukan tadi setelah membeli buku, belaga anak kuliahan, aku membaca salah satu bab dari buku yang dibeli. Setelah membayar kepada pedagang buku tersebut, aku duduk di samping tumpukan buku yang dipamerkan. Aku biasa membeli buku di emperan jalan. Meskipun pihak tata ruang kota, tentunya sangat marah karena para pedang buku tersebut mengganggu pemandangan kota. Apakah para pejalan kaki merasa terganggu? Menurutku justru pemilik toko yang ada di belakang toko buku tersebut yang terganggu. Aku tidak peduli dengan permasalahn tersebut yang penting aku dapat memiliki buku yang aku inginkan dengan harga yang sedikit murah.

Cerita, ...., selamanya tentang manusia, kehidupannya, bukan kematiaannya. Ya biarpun yang ditampilkannya itu hewan, raksasa atau dewa atau hantu. Dan tidak tak ada yang lebih sulit dapat difahami daripada sang manusia... jangan anggap rendah si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana; biar penglihatanmu setajam mata elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perbedaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaranmu dapat menangkap musik dan ratap tangis kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia takan bakal bisa kemput.”

Buku tersebut aku tutup dan entah kapan aku melanjutkan untuk membacanya. Biasanya aku membiarkan beberapa bulan kemudian aku membacanya kembali. Ada kebanggaan tersendiri buat diriku memiliki buku yang tebal apalagi buku yang berbahasa Inggris. Kendatipun buku yang aku beli ini bukan berbahasa Inggris namun aku merasa bangga karena buku tersebut ditulis oleh novelis terkenal, PRAM MOEDYA ANANTA TOER. Entah mengapa aku merasa bangga menyebutkan namanya di depan teman-temanku. Bahkan aku lebih bangga menyebutkan namanya daripada nama-nama presiden negeriku sendiri. Meskipun tidak sebangga tatkala aku mengungkapkan nama-nama pengarang dari luar negeri. Hampir semua karya-karyanya aku punya. Sampai sekarang aku masih memburu karya-karyanya. Selain bagian depan yang aku baca pertama kali tatkala aku membeli buku baik buku cetakan baru atau lama, aku juga membaca bagian belakang, yakni Daftar Karya Pramoedya Ananta Toer. Ternyata, sayang seribu sayang banyak karya-karyanya hilang di tangan penerbit dan dibakar oleh aparat pemerintah Indonesia. Dan ada pula sebagian karyanya yang dirampas oleh Marinir Belanda. Aku berpikir dan bertanya mengapa orang berani bahkan tega menghilangkan ilmu pengetahuan. Bukankah karya tersebut bahan bacaan, dan membaca adalah menambah pengetahuan bagi manusia. Sederhana sekali pertanyaan yang aku pikirkan tersebut. Aku merasa kesal dan kecewa karena tidak bisa memuaskan keinginanku untuk memiliki semua karya yang pernah ditulisnya. PRAM MOEDYA ANANTA TOER. Huh! Sebuah  nama yang mengesankan bagi diriku. Meskipun aku belum pernah bertemu dengan dirinya. Aku hanya melihat wajahnya dari sampul buku yang dicetak dengan ukuran 4x6. Rambut bagian depannya kelihatan menghilang sehingga terlihat bagian kulit kepalanya mengkilap seperti hutan lebat yang habis ditebang sembarangan. Lekukan keriput pada jidat dan kelopak matanya menunjukan bahwa dia sudah tua. Matanya yang sipit dikhiasi kaca mata besar, aku yakin itu bukan sebagai sebuah gaya dalam berpose namun sebagai alat untuk membaca, menunjukan suatu kewibawan bahwa dia seorang pemikir atau sederajatnya. Pakaian yang digunakannya adalah baju batik. Ini menunjukan bahwa dia sangat cinta pada tanah airnya. Dengan menggunakan dan memakai produk sendiri berarti kita membangun bangsa sendiri secara tidak langsung. Seandainya dia cinta pada tanah airnya mengapa karya-karyanya dikekang oleh bangsanya sendiri? Dalam hal ini aku tidak tahu jawaban yang pasti. Namun aku punya jawaban sendiri yang tidak dapat diucapkan sekarang. Aku lebih tertarik pada senyum dan kedua tangannya yang seperti bertepuk. Aku tidak tahu apakah dia sedang tersenyum atau justru dia sedang berkata “Ayo...bangkit bangsaku”, kemudian, ketika dia ngomong demikian juru photo memotretnya. Aku yakin bahwa tepukan tangan adalah isyarat untuk memberikan dukungan atau semangat kepada yang lain. Seperti karya-karyanya yang penuh dengan semangat hidup meskipun dalam kekangan penderitaan.

 Penderitaan. Sebuah kata benda yang dibentuk dari kata sifat ‘derita’, yang sepadan dengan kesedihan, muncul dalam benakku tatkala aku melihat lebih dekat kepada kerumunan orang dipinggir jalan. Aku menyelinap untuk melihat orang yang menangais. Ternyata, dugaanku benar bahwa dalam rumah tersebut ada sebuah penderitaan dan/atau kesedihan. Seorang ibu setengah baya yang bersandar pada dada wanita di dekatnya menangis meronta sambil menyebut nama Tuhan seperti anak bayi menginginkan payudara ibunya. Dan seorang perempuan, dugaanku dia adalah anaknya, yang sebaya dengan diriku sama menangis. Suara tangis mereka seakan saling mengalahkan satu sama lainnya. Seolah mereka sedang berlomba, yakni siapa suara tangisnya yang paling keras, dia adalah orang yang paling menyayangi orang yang sedang tergeletak di ruangan rumah tersebut, suami/ayah mereka. “Bukan kematian benar menusuk kalbu. Keridlaanmu menerima segala tiba. Tak kutahu setinggi itu atas debu dan duka maha tuan bertakhta”. Sepontan pikiranku teringat kata-kata tersebut.

Aku kembali keluar dari halaman rumah tersebut. Tujuanku sebenarnya ingin pulang, menuju rumahku. Berapa langkah aku dari tempat tersebut aku mendengar obrolan dengan suara yang ditahan.

“Aku tidak percaya dia meninggal begitu cepat...”Aku tidak bisa mendengar dengan jelas kelanjutan obrolannya karena seorang ibu dan anak kecil menambrak langkahku. Dia  menerobos masuk ke dalam rumah sambil menangis  “Bapak Usir memang orang yang pantas untuk dibanggakan”. Entah berapa percakapan aku ketinggalan mendengarkannya. Sekarang aku yakin bahwa orang yang meninggal itu adalah seorang laki-laki dan bernama Usir. Aku merasa ada sesuatu yang ganjal dalam pikiranku. Pikiranku merasa terganggu oleh tatapan anak yang bersama perempuan yang menambrak diriku tadi. Sorot matanya seperti meminta bantuan kepadaku. Bahwa dia tidak ingin menyaksikan kesedihan ini.

“Kasihan anak perempuannya. Seharusnya dia bersama ayahnya takala di wisuda nanti. Dan aku pernah ngobrol dengan ayahnya bahwa dia sangat senang sekali kalau melihat putri sulungnya memakai pakaian toga seperti hakim. Kesenangan seorang ayah memang ingin melihat anaknya sukses.” Dengan lugas dan percaya diri dia bersimpati.

“Wisuda. Apakah sama dengan kenaikan kelas anakku?” Orang yang bergaya dengan memakai kaos biru dengan celana jeans warna hitam bertanya kepada temannya. Sebenarnya aku ingin sekali nimbrung dengan mereka. Tapi apa daya aku tidak mengenal mereka dan mereka pun tidak memperhatikan diriku. Aku bersandar pada pagar tembok. Jarak antara aku dengan mereka hanya beberapa kaki. Aku mencoba menebak bahwa dia adalah lulusan Sekolah Dasar atau sederajatnya. Aku jadi teringat tatkala aku menamatkan sekolahku dan diwisuda. Waktu itu ayahku masih menikmati keindahan lain di waktu libur. Gurat wajah keriputnya seakan tidak terlihat karena terpoles oleh senyum bangga bahwa anaknya telah lulus dari kuliahnya. Aku mungkin anak durhaka, anak yang hanya mennyenangkan ayahnya satu kali, yaitu ketika aku diwisuda. Ayahku bangga berjalan dengan diriku, seolah dia ingin menunjukan kepada tetangganya dan berkata, “lihat anakku memakai baju seperti seorang hakim, toga’. Anakku telah menamatkan kuliahnya dan diwisuda. Aku mampu membesarkan anakku sampai sesukses sekarang”. Nyatanya memang benar orang-orang memujiku dan secara tidak langsung mereka memuji dirinya, pula.

Perasaan dan pikiranku sebenarnya bangga dan bingung waktu itu. Satu sisi, Aku merasa bangga karena aku telah membuat ayahku tersenyum gembira. Sisi lainnya aku merasa bingung karena aku tidak memiliki rencana untuk masa depanku. Dan aku berpikir bahwa ‘hajatan’ ini hanya sebuah simbol pembuangan anak didik oleh pendidiknya, dengan memindahkan tali yang ada pada topi toga dari sebelah kiri ke sebelah kanan (tentunya dilihat dari orang yang melakukan penobatan tersebut, biasanya oleh seorang Rektor). Tidak ada masa depan tanpa sebuah penobatan, meski sang Kala beristirahat di sebelah barat waktu sore hari. Nyatanya dari sebuah topi aku mengakhiri masa-masa penyusuan pada orang tua. Namun aku lebih beruntung dari anak perempuan yang meninggal itu. Aku masih melihat kebanggaan seorang ayah kepada anaknya.

“Kenapa topinya tidak kau pakai?” Tanya ayahku sebelum kami berangkat ke aula, tempat aku dinobatkan untuk berhak menyandang gelar sarjana.

“Nanti setelah sampai di sana.” Jawabku. Kenapa ayahku bertanya tentang sesuatu yang tidak perlu untuk dipertanyakan? Masalah kerapihan dalam penampilanku saat itu adalah urusan ibuku. Waktu kecil Ibuku selalu membetulkan kerah baju, tali sepatu dan resleting celanaku sebelum berangkat ke sekolah. Lagian, aku sudah besar dan akan menjadi sarjana pula.     

Aku tidak lagi mendengar obrolan mereka. Namun, sebelum meninggalkan tempat tersebut, aku masih mendengar salah satu dari mereka bahwa harga beras naik sampai 50%. Langkahku sekarang terganggu oleh tatapan anak kecil tadi. Aku terus memikirkan tatapannya. Rambutnya yang pirang mengingatkanku pada omongan ayahku bahwa waktu kecil rambutku tipis dan coklat dan kekuningan. Aku meraba kepalaku. Sampai sekarang warna rambutku masih seperti dulu, namun sekarang rambutku tebal dan panjang. Tubuhnya yang kurus mengingatkanaku pada perkataan ibuku bahwa aku sangat kurus. Dan anak-anak sebayaku waktu itu sering mengejekku. Dan aku tidak pernah peduli dengan sebuah ejekan yang akan merusak pikiranku. Waktu kecil aku selalu menjadi objek penderita. Sehingga aku meresa ‘aku ini binatang jalang dari kumpulan yang terbuang’. Aku meraba muka dan hidungku dengan kedua tangan. Kemudian tangan kiri aku pegang dengan tangan kanan. Ternyata sampai sekarng keadaan fisikku memang kurus untuk ukuran seumurku. Salah ibu mengandung? Tidak, ibuku tidak bersalah dia selalu mencukupi kebutuhanku.

Aku mencoba melupakan tatapan anak kecil tadi. Aku terus berjalan melewati gang-gang sempit. Aku tidak mengambil jalan yang paling dekat untuk menuju ke rumahku. Aku lebih memilih jalan yang paling jauh. Aku memutar arahku ke kiri dari arah rumah orang yang meninggal tadi. (Aku lebih memilih jalan ini daripada jalan yang aku inginkan. Meski kaki ini tidak menghendakinya). Aku berpikiran sama dengan salah satu tokoh yang dicitrakan oleh Pram. Jalan-jalan kecil di sini sama dengan di kampungku, yakni sempit dan sumpek. Hal ini tidak merupakan masalah buatku, bagiku mereka masih mau menghibahkan tanahnya untuk kepentingan banyak itu menandakan bahwa mereka adalah manusia yang bersosial dan beradab. Aku merasa ngeri dengan orang yang saling membunuh gara-gara tanah 1 m­3. Semakin lama perjalananku semakin dekat tujuan ke rumahku. Entah dari mana datangnya ingatan tentang tatapan anak kecil itu kembali merasuki pikiranku. Sekarang aku tertulari oleh kata tadi, sedih-kesedihan. Aku teringat kepada ayahku yang telah meninggal sembilan bulan yang lalu. Matanya yang penuh semangat semasa hidupnya, takala itu, seakan tersapu oleh air mata yang mengalir dari matanya. Satu hari sebelum meninggal, aku masih ingat waktu itu adalah hari jum’at, matanya seperti mata anak kecil tadi. Air matanya perlahan membasahi pipinya. Suara parau terucap dari mulutnya. “Aku sudah lelah melihat warna langit. Mataku sudah bosan melihat tetangga kita yang selalu mondar-mandir di depan rumah kita. Mataku sudah perih setiap hari dibasuh oleh air wudlu. Dan mataku sudah bosan melihat dirimu bergelut dengan buku-buku. Dan mataku...Biarkan aku menutup mata ini untuk selamanya”. Waktu itu aku tidak mengerti mengapa dia memanggilku hanya untuk membahas matanya. Dia juga bertanya kepadaku berapa banyak ilmu pengetahuan yang telah aku dapatkan. Aku tidak menjawab pertanyaannya. Aku hanya menganggukan kepala dengan mata nanar.

Sejak kejadian itu, aku mencari kesunyian agar aku tak duduk bersama orang yang hanya mempunyai secuil pengetahuan, yang melihat bayangan ilmu hanya dalam mimpi lalu mengkhayalkan diri mereka berada dalam lingkaran kebenaran. Dan jiwaku seperti tokoh utama dalam Bukan Pasar Malam yang harus membangun rumah yang telah ditinggalkan oleh ayahnya. Masih ada yang tersisa dari kematian ayahku yang selalu menempel dalam pikiranku, yakni kehidupannya.

Akhirnya, aku sampai juga ke rumahku. Ini adalah rumahku. Aku meyimpan buku di bagian rak buku yang belum dibaca. Aku teringat lagi tatapan anak kecil itu. Sekarang aku berdiri di depan dinding. Di depan, di atas kepalaku terkantung sebingkai pigura yang di dalamnya berisi photo. Dia adalah ayahku. Aku menatapnya—rambut, wajah,  dan baju yang digunakannya dan matanya. Sangat lama aku menatap matanya. Suara bertubi-tubi dari langit yang ditimbulkan oleh genting rumahku membuyarkan lamunanku.

“Sekarang kau hanya bisa melihat istrimu dari satu arah, ayah”. Aku membasuh cairan yang keluar dari mataku dengan kedua tangan.

 

Parakansaat, 10 Pebuari 2007

              

Top